INFOCIMAHI-Kecanduan judi online memang menjadi suatu keresahan yang bukan hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga terhadap kejiwaan seseorang.
Lucas Spanember yang merupakan seorang psikiater sekaligus peneliti di Institut Otak Universitas Katolik Kepausan, Rio Grande do Sul (PUC-RS) menyoroti kecanduan judi online memiliki akar yang sama dengan jenis kecanduan lainnya, seperti halnya kecanduan zat alkohol, nikotin, kokain, dan sebagainya, serta kecanduan perilaku seperti seks, makanan, belanja, dan sejenisnya.
“Kita punya area di otak yang disebut sistem limbik, di mana terdapat serangkaian struktur yang saling terkoneksi dan membentuk reward circuit (sirkuit penghargaan). Sirkuit ini berfungsi memberikan perasaan puas, apa pun yang membuat kita senang entah itu aktivitas seksual, makan makanan yang kita sukai, dekat dengan orang yang kita cintai memicu pelepasan neurotransmitter dopamin di sirkuit ini,” kata Spanemberg sebagaimana dikutip dari bbc.com.
Namun, yang menjadi permasalahannya adalah ketika ada zat dan perilaku yang melepaskan dopamin dalam jumlah yang jauh lebih besar ke dalam sistem otak.
“Kalau misalnya dalam kondisi normal yang menyenangkan, dopamin dilepaskan pada intensitas 10, maka ketika berhadapan pada sesuatu yang membuat ketagihan, intensitasnya meningkat menjadi 100. Perlahan, orang itu akan berhenti melakukan hal-hal yang memberi rasa puas normal, lalu ketagihan melakukan hal yang membawa lebih banyak dopamin ke sirkuit ini,” kata Spanemberg.
Di sisi lain, tak semua penjudi mengalami gangguan kejiwaan. Hal itu karena gangguan akibat bermain games saja hanya mempengaruhi sekitar 0,4% hingga 0,6% populasi berdasarkan tinjauan artikel yang diterbitkan pada tahun 2019 di jurnal Nature Reviews yang ditulis oleh para ahli dari sejumah institusi di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Namun, jumlahnya bervariasi tergantung dimana survei dilakukan, seperti di Hongkong yang persentasenya 1,8% sedangkan Australia mencapai 2%. Meski begitu, para pakar dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat bahwa gangguan seperti itu berpotensi mempengaruhi sekitar 1 dari 100 orang, begitu juga gangguan jiwa akibat kecanduan judi.
Seorang Koordinator Klinik Perjudian Patologis dan Program Gangguan Impuls di Institut Psikiatri di Rumah Sakit das Clinicas di Sao Paulo, Dokter Hermano Tavares melakukan sebuah penelitian selama 1 dekade dan melaporkan bahwa 12 hingga 15% orang Brasil berjudi secara rutin. Ia juga berspekulasi bahwa jumlahnya pasti meningkat terlebih semakin tersedia akses judi online di aplikasi seluler.
“Dari orang-orang yang rutin bermain, sekitar 15% mengalami kesulitan dengan permainannya. Dengan kata lain, dari tujuh orang yang suka bersenang-senang sesekali, ada satu orang yang menghadapi masalah seperti ini,” kata Tavares.
Tavares menggaris bawahi itu adalah angka rata-rata karena tingkat kecanduan dapat bervariasi tergantung pada jenis permainannya.
Asosiasi Psikiatri Amerika menyatakan bahwa ada beberapa ciri-ciri seseorang memiliki masalah kejiwaan akibat kecanduan judi. Mulai dari sering memikirkan perjudian, merasa butuh berjudi walaupun berulang kali gagal tetapi tidak bisa mengurangi, atau berhenti berjudi, merasa gelisah hingga marah ketika mencoba mengurangi atau berhenti berjudi, menganggap berjudi sebagai cara melarikan diri dari stres, merasa perlu terus berjudi demi membalas dendam sampai mencapai titik impas semacam memulihkan kerugian, hingga bermain judi ketika merasa sedih.
Kendati demikian, dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat penting dilakukan dalam mendiagnosis kondisi ini. Jangan lupa ajak anggota keluarga yang kecanduan judi online tersebut untuk melakukan aktivitas positif dan menyenangkan supaya dapat mengalihkan pikirannya.